Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

Dari Workshop Menjadi Enterpreneur sejak kecil....

Saya tiba-tiba mendapat sms dari seorang teman Guardian Angel yang mengabarkan bahwa dia ada di makassar. namanya Erick tertulis di phone name... awalnya saya mengira dia adalah Erick teman kuliah saya dulu.... tetapi dari balasan sms berikunya saya baru menyadari kalo ia adalah teman alumni Guardian Angel.... beliau berada di sekolah cendekia yang beralamat di Pao-pao Paccinongan Gowa.... akhirnya karena sudah sore dah sudah bersiap pulang maka saya menyampaikan bahwa saya akan singgah bertemu beliau ... ya sambil pulang.... setiba disana .. saya mendapati beliau sedang menyemangati guru-guru sekolah cendekia... ada bahan presentasi yang disampaikan sekaligus ada game-game yang dilakukan bersama guru-guru cendekia... karena acaranya menarik saya tinggal dan ikut kegiatan tersebut bergabung dengan para guru-guru tersebut.... ternyata beliau sudah hadir di Makassar di sekolah cendekia tersebut sejak kamis... dan rencananya besoknya akan mengadakan workshop menjadi enterpreneur sejak kecil yang diperuntukkan bagi anak-anak usia 10 tahun keatas atau SD kelas 4 sd SMP... acaranya menarik sehingga saya mengikutikan anak sulung saya bernama Sadid untuk kegiatan tersebut, bergabung dengan anak sekolah cendekia serta anak sekolah SMP Lazuadi GIS Makassar... dua sekolah ini adalah sekolah elit dengan jumlah pembayaran sekolah yang selangit menuruut ukuran kebanyakan kita, menurut ukuran saya yang PNS ....
Siapa Abi Erik...?
Abi Erik atau nama lengkapnya adalah Syamsul Bahri adalah guru dan kepala sekolah Citta Bangsa di Jakarta... sebelumnya beliau sempat berkarir diperusahaan milik PT S****M** dan kemudian resign... sekarang selain sebagai guru beliau juga mengembangkan kompetensinya menjadi trainer dan motivator khususnya bidang pendidikan.... beliau juga alumni perkuliahan Guardian Angel yang di gagas oleh Bapak @Munif Chatib ... penggagas sistem Sekolah Multiple Intelligence .... sekolah yang kurikulumnya di negeri sekarang dikenal sebagai kurikulum 2013... saya mengenal pertama kali Abi Erik tahun lalu pada salah saat perkuliaahan Guardian Angel Angkatan XIII, perkuliahan pertama di Makassar, dimana beliau waktu itu sedang mengisi pelatihan di salah satu di Makassar.
Apa itu Workshop Menjadi Enterpreneur sejak kecil?
Workshop satu hari ini berlangsung sejak jam 9pagi hingga jam 5 sore ... diisi dengan presentasi dan game-game tentang bagaimana merencanakan sukses bagi anak-anak sejak kecil ...
Acara pertama di mulai dengan game mengenal teman-temannya... kemudian presentasi tentang bagaimana memiliki Paradigma yang besar, memiliki harapan yang besar dan memiliki cita-cita yang besar .... acara dibawakan dengan santai dan penuh keceriaan.. anak-anak malah merasa mengikuti kegiatan senang-senang dan bukan duduk kaku mendengarkan sebagaimana seminar selama ini...
selanjutnya setelah anak-anak memahami 3 big tersebut yaitu big paradigma, big hope dan big dream ... seperti mata uang logam itu baru satu sisi, sisi sebelahnya yang harus dimiliki adalah sikap... yaitu sikap pada diri sendiri, sikap pada orang tua dan guru, sikap pada teman, sikap pada kegagalan.... anak-anak secara berkelompok diminta menuliskan sendiri sikap tersebut dan kemudian mempresentasikannya ...
selanjutnya anak-anak diminta menuliskan rencana suksenya berikut target tahun pencapaiannya... misalnya tamat SD tahun berapa, tamat SMP tahun berapa, tamat SMA tahun berapa, lulus kuliah tahun berapa dan setelah itu menjadi apa ... setiapanak menulliskan rencana suksesnya tersebut berikut keterangannya tempat...
setelah acara ini anak-anak dibagi 4 kelompok kemudian melakukan permainan dalam bentuk outbond di halaman sekolah.... setiap anak dalam kelompok kemudian bersaing berusaha memenangkan kelompoknya... ada 5 jenis lomba dan kemudian ditetapkan kelompok mana yang menjadi juara .... ada nuansa kompetisi dari masing-masing kelompok dan berlangsung sengit, menguras tenaga dan keharuan anak-anak... penontonpun ikut larut dalam menyemangati anak-anak.. guru-gurunyapun ikut bergabung dan menjadi bagian dari setiap kelompok...pokoknya seru dan penuh keceriaan...
acara terakhir diisi renungan... Abi Erik sangat piawai mengatur dan mengkondisikan suasana sehingga anak-anak larut dalam keharuan ketika mereka di tunjukkan film tentang sikap seorang anak yang telah dewasa kepada orangtuanya yang telah pikun.... suasana hikmat dan penuh makna...suasana tersebut kemudian dirasakan juga oleh setiap anak sehingga ketika anak-anak kemudian diminta untuk mendatangi orangtuanya untuk menyampaikan maaf dan salam taksim serta ucapan terima kasih ... anak-anak berlarian menemui orangtuanya masing-masing, menyalami dan mneciumi dengan penuh rasa sayang... suasana anatar anak dan orangtua berubah haru ... akan halnya Sadid, dia terdiam di tempat duduknya menangis terharu... demikianlah acara kemudian berakhir dan ditutup dengan keharuan mendalam.
Selepas acara ini, malamnya saya mengirimkan sms kepada Abi Erik mengucapkan terima kasih atas workshopnya, beliau menanya balik bagaimana Sadid, saya balas lagi bahwa Sadid sangat terkesan dan mudah-mudahan kami orangtuanya mampu terus mendampingi, memberi penguatan dan semogapai dia dapat menentukan dan menpai cita-citanya kelak....aaminn Ya Rabbal Alamin ....

Rabu, 25 Februari 2015

Malu Padamu

Minggu 22 pebruari 2015, tak sengaja remote TV memencet satu saluran yang menampilkan seorang tokoh yang bercerita tentang aktivitasnya yang luar biasa. Namanya M. Saleh Yusuf, dia seorang supir bis antar kota di Nusa Tenggara dengan penghasilan maksimal Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus rupiah)jika bekerja.
Prihatin dengan pendidikan anak-anak di daerahnya, beliau nekat membangun sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum. Guru di rekrut dari penduduk desanya yang sarjana namun menganggur. Gaji yang dia berikan ke guru tersebut diambil dari setengah penghasilannya sebagai supir bis yang dibagi rata dengan semua guru.
Sekolahnya dibangun diatas tanah milik orang tuanya. Bukan tidak ada masalah ketika tanah tersebut dibangun sekolah, sebab orangtuanya berencana menjual tanah tersebut untuk biaya naik haji. Namun beliau berhasil meyakinkan ayahnya bahwa pahala membangun sekolah jauh lebih besar dari naik haji. Dilihat dari penampilannya tidak nampak sebagai seorang penggiat pendidikan, rambutnya dipelihara tetap panjang, seperti preman. Alasannya karena dia hidup diatas jalan sebagai sopir bis antar kota yang rentan di palaki oleh preman, maka dengan penampilan tersebut setidaknya dia tidak digannggu oleh preman.
Suaranya berat rada berwibawa dan oleh host disebutnya sebagai suara mirip bang Haji Roma...mirip benar, apalagi jika sudah keluar kalimat bernada filosofis, kadang menyitir ayat suci alqur'an. Kiprah M. Saleh Yusuf ini sungguh luar biasa. dengan keyakinan bahwa jika mengusahakan sesuatu yang baik maka akan ada jalan kemudahan yang diberikan Tuhan benar-benar dia rasakan. salah satu usaha untuk menutupi kekurangan biaya sekolah, anak-anak sekolahnya setelah jam belajar di pekerjakannya dengan menanam tanaman sayur dan lain-lain. Hasilnya itulah yang digunakan untuk menambah biaya operasional sekolah.
Warga sekitar sekolah menjadi tertarik karena nyata sekali perbedaan anak-anak yang sekolah di darul ulum dengan sekolah lainnya. maka sekolah yang awalnya cuma terdiri 9 siswa kemudian berbondong-bondong masyarakat memasukkan anaknya sekolah di sekolah tersebut. atas aktivitas tersebut M.Saleh Yusuf mendapat bantuan senilai 100juta dari dermawan bersama 3 orang lainnya.
Jika membandingkan kiprah Pak Saleh ini maka seharusnya saya yang di gaji pemerintah untuk mengurusi pendidikan bisa berbuat lebih banyak dibanding beliau. rasanya kok saya masih saja sibuk menuntut lebih banyak dibanding berbuat lebih banyak..... lalu apa setelah ini ???? sungguh malu aku padamu Pak ....

Jumat, 13 Februari 2015

Guru berkualitas Guru Vs Guru berkualitas Buruh

Guru sejatinya di tiru dan di gugu. Guru adalah teladan. Setiap perbuatan guru seharusnya mencerminkan suatu sikap yang pantas di teladani. Meskipun guru bukanlah malaikat, tetapi guru berkewajiban untuk melaksanakan setiap perbuatan baik yang mampu dilakukannya karena perannya sebagai guru yang di tiru dan di gugu.
Namun faktanya perhatian terhadap kualitas guru ini sering seadanya, baik oleh orang sekitarnya maupun bagi guru itu sendiri. Tak jarang kita mendengar berita perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang guru sungguh di luar apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang tauladan.
Suatu ketika saya mengkonfirmasi suatu kejadian yang dialami oleh anak saya di sekolah. Kejadian yang membuat anak saya mengalami cedera. Dengan sms yang isinya ditujukan kepada wali kelas serta direktur sekolah saya menanyakan kejadian tersebut. Tidak disangka respon cepat datang dari guru tersebut, bahkan menelpon berkali-kali baik ke nomor saya maupun ke nomor ibunya. Mengherankan karena selama ini sering sms yang kami kirim tidak dibalas. Tetapi ini sungguh mengejutkan.
Analisa saya, ini bukanlah karena cedera yang dialami anak saya di sekolah, tetapi karena pencantuman isi sms ke direktur sekolah yang sebenarnya tidak saya kirimkan. Tetapi sepertinya itu yang menjadi perhatian besar dari guru tersebut. Saya melihat bahwa guru tersebut lebih khawatir terhadap penilaian direktur dibanding mengkhawatirkan perannya sebagai guru. Ketakutan guru terhadap penilaian atasannya lebih diatas dibanding ketakutan guru terhadap kualitas perannya sebagai guru. Guru seperti ini saya sebut sebagai guru berkualitas Buruh. Lalu seperti apa guru yang berkualitas Guru? tentu saja adalah guru yang pantas di tiru dan di gugu.
Bagaimana guru bisa di tiru dan di gugu ? Tentu saja guru tersebut harus memerankan perilaku yang berkesan baik bagi siswanya. Guru yang setiap perbuatannya mencerahkan siswanya. Guru yang dalam menjalankan tugasnya tidak sekedar berdiri didepan kelas tetapi juga berdiri setiap saat manakala siswa membutuhkan perhatian dan nasehatnya. Peran khusus guru adalah menjelaskan suatu pengetahuan dalam matapelajaran tertentu kepada siswanya. Yang dengan penguasaan cara menyampaikan pengetahuan tersebut, siswa mencintai dan menyenangi pelajaran tersebut. Ini titik masuknya.
Ketika siswa menyenangi suatu pelajaran oleh karena cara guru membawakan materi pelajaran tersebut menjadi berkesan, maka selanjutnya siswa akan mengikuti dan mendengarkan nasehat gurunya. Guru tidak perlu khawatir dengan penilaian atasan, karena seorang atasan dari guru seharusnya mendorong gurunya untuk menjadi teladan bagi siswanya. Atasan seorang guru bukanlah seorang supervisor, atau mandor yang akan menilai pencapaian jumlah transaksi pembelajaran yang dilakuakn guru. Atasan seorang guru lebih berkonsentrasi terhadap kualitas interaksi antara dirinya dengan guru tersebut serta antara guru dan muridnya, kualitas interaksi yang bersandar pada nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai fitrah kemanusiaan. Kualitas seorang guru tidaklah lahir karena interaksi pembelajaran yang diikutinya lewat sebuat institusi pendidikan guru. Kualitas seorang guru haruslah bersumber dari dalam diri orang tersebut yang merasa memiliki panggilan jiwa untuk menjadi guru. Sebuah institusi pendidikan guru seharusnya menyeleksi setiap calon pesertanya adalah orang-orang yang memiliki keminatan untuk menjadi guru, bukan karena sekedar nilai-nilai akademik yang menjadi saringan masuknya. Instituri pendidikan guru tentunya berisi materi tentang bagaimana ketrampilan pedagogik tertinggi bisa dilaksanakan, bagaimana kerampilan mengajar tertinggi bisa di pelajari, bagaimana menilai kemajuan hasil pembelajaran. Semuanya bisa di pelajari tetapi tanpa dorongan dan sikap untuk menjadikan semua ketrampilan tersebut sebagai alat untuk mendidik manusia tentulah menjadi sia-sia.
Menjadi guru bukanlah sebuah profesi yang dinilai berdasar jumlah transaksi pembelajaran untuk di konversi dalam jumlah uang tertentu.
Guru adalah profesi yang sebenarnya tidak dibayar cuma dengan uang. Profesi guru adalah profesi kemuliaan. Ia melindungi dan memayungi orang-orang dari ketaktahuan, karenanya ia diselimuti kemuliaan. tetapi bagaimanapun, seorang guru adalah juga manusia. Ia bukan sepenuhnya malaikat tetapi ia mencerminkan perilaku sebagai malaikat. Ia seperti seorang malaikat penjaga (a guardian angel).
jadi seperti apa guru anda? seperti apa guru anak-anak anda? harap diingat, sepanjang guru tidak melakukan hal-hal merugikan dan terlarang baik secara etis apalagi hukum, masih ada kesempatan untuk mengajak guru meningkatkan kualitasnya. Hormati mereka. Sanjung mereka. Muliakan mereka. Tetapi, jika guru anda sudah berperilaku di luar norma kewajaran, bahkan seperti merokok sekalipun, maka STOP. Cukup Sudah. Masa depan anak-anak kita jauh lebih berharga daripada menyerahkannya kepada mereka yang tidak mengerti kualitasnya sebagai seorang Guru. Guru profesi mulia, bukan profesi perusak. Lebih baik mereka cari pekerjaan lain jika tidak bisa menjadi guru terbaik.

Selasa, 11 Juni 2013

Kurikulum 2013

Hari-hari terakhir ini, semakin sering kita mendengar ataupun membaca berita tentang implementasi kurikulum 2013. ada pro-kontra mengenai kurikulum tersebut. Mendikbud nampaknya sangat terobsesi untuk menerapkan kurikulum tersebut di tahun ini 2013, mungkin karena hanya tahun ini sempatnya tuk mengimplementasikan kurikulum baru tersebut. Tahun depan hampir pasti masa jabatan menteri mau tidak mau harus berakhir bersamaan berakhirnya masa bakti kabinet indonesia bersatu. Lalu apa sih yang berubah dari kurikulum baru ini? kita tentu mengingat kurikulum yang berlaku sekarang dan bahkan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum KTSP dan yang sebelumnya KBK, semuanya dikeluarkan oleh menteri yang berbeda sehingga kesan bahwa ganti menteri ganti kurikulum begitu kental terasa. Penjelasan dari pejabat Pusat Kurikulum menjelaskan betapa Mendikbud saat ini begitu penuh perhatian dalam mempersiapkan kurikulum 2013 ini, sangat berbeda dengan menteri sebelumnya yang tinggal ttd, tetapi ini menteri sekarang sangat peduli dan bahkan sering menghadiri dalam acara workshop-workshop yang diselenggarakan puskur selama persiapan kurikulum ini. Target penerapan kurikulum pada awal tahun ajaran baru nanti yang tinggal 2 bulan tentu sangat kasip. bisakah? solusi yang diambil adalah penerapan kurikulum terbatas pada sekolah tertentu yang dari segi keterjangkauan lebih mudah, serta sarana dan prasarana sekolah lebih siap. maka sekolah2 RSBI menjadi sasaran penerapan kurikulum juga sekolah unggulan. lalu bagaimana dengan sekolah yang bukan sasaran tetapi sudah melaksanakan kurikulum baru tersebut? mereka ini boleh menerapkan kurikulum baru tetapi dengan usaha sendiri dan melapor ke laman kemdikbud oleh dinas pendidikan. Sekolah2 sasaran kurikulum 2013 ini nantinya akan menerima semua perangkat yang dibutuhkan untuk penerapan kurikulum termasuk buku pelajaran sekolah, buku panduan guru dan kelengkapan lainnya semuanya sudah jadi dan tinggal dilaksanakan. Selain itu sekolah sasaran juga akan diberikan pelatihan sebelum melaksanakan kurikulum tersebut. Terkait dengan hilangnya sejumlah mata pelajaran pada kurikulum baru tersebut, hal inipun menimbulkan kerisauan bagi guru mata pelajaran tersebut, contoh mapel TIK sudah tidak ada lagi dalam kurikulum 2013, tetapi bukan berarti dihilangkan materi TIK tersebut, tetapi ia ada didalam setiap mata pelajaran. Dengan demikian guru TIK tetap akan diakomodir dan tetap bisa memenuhi 24 jam mengajar per minggu dan dengan demikian juga tetap akan dijamin sertifikasinya. Ini berbeda dengan fakta yang terjadi dilapangan dimana sejumlah guru TIK oleh kepala sekolahnya di suruh mencari pekerjaan lain karena sudah tidak akan di pakai lagi. Ini tentu menyakitkan bagi guru TIK, karena peran mereka selama ini yang sangat besar dalam mentransformasi sekolah kolot menjadi modern dengan menghadirkan TIK disekolah seolah dianggap remeh dan terabaikan. Habis manis sepah dibuang. Tanggapan semacam kepala sekolah gaptek tersebut dan juga guru-guru senior lain serta pejabat di dinas pendidikan yang sama gapteknya (meskipun mereka merasa sudah tahu TIK) tentu harus disikapi dengan bijaksana oleh para guru TIK, bagaimanapun sekolah butuh TIK dan hanya orang TIK yang bisa menangani masalah ini. Lalu bagaimana struktur mata pelajaran kurikulum 2013? Mata pelajaran dibagi 2 kelompok yaitu kelompok A dimana materi, isi, dan buku sudah disiapkan oleh pusat kurikulum dan sekolah tinggal melaksanakan. Mata pelajaran tersebut adalah pada Tingkat SD kelas 1,2 dan 3 adalah Pendidikan Agama, Pancasila, bahasa Indonesia, Matematika. Mapel IPA dan IPS baru ada di kelas 4,5 dan 6. Kelompok B adalah mata pelajaran yang disiapkan oleh pusat dan pemerintah daerah oleh karena isinya bisa kompromi dengan muatan lokal daerah, mata pelajaran tersebut adalah Seni Budaya dan Pra karya serta Penjas Orkes. Total 30 sd 36 jam per minggu untuk SD. Pada tingkat SMP, mata pelajaran kelompok A sama dengan SD dan bertambah 1 mapel yaitu Bahasa Inggris dan kelompok B 3 mata pelajaran yaitu ada tambahan mapel Prakarya. Di tingkat SMA bertambah 1 kelompok lagi yaitu mapel kejuruan di kelompok C yang diambil dari mapel IPA dan IPS. Sejarah Indonesia baru dibelajarkan di SMA di kelompok A. Selain itu, jika sebelumnya berlaku PP no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan yang terdiri dari 8 standar, maka pada kurikulum baru berkurang lagi hingga tinggal 4 standar yaitu Standar Kompetensi Lulusan yang sudah terbit SK-nya dan 3 Standar lain yang sementara dalam proses penerbitan SK yaitu Standar Isi, standar Proses dan standar Penilaian. Dari uraian mata pelajaran yang disajikan pada kurikulum 2013 terlihat jelas sudah tidak terdefinisi lagi mata pelajaran TIK yang sebelumnya sudah ada sejak SD kelas I, juga IPA-IPS yang baru dipelajari di kelas 4 SD, bahasa Inggris baru ada di SMP. Sejarah baru ada di SMA. Tetapi tidak berarti materi pada mata pelajaran tersebut benar-benar tidak ada, penjelasan dari puskur menyebutkan dan memberi contoh seperti guru Bimbingan dan Konseling yang meski tidak ada mapel BK di kelas, tetapi guru BK tetap punya jam mengajar minimal 24 jam seminggu dan tetap bisa di sertifikasi, hal ini berlaku pula pada guru TIK tersebut. Lalu apakah benar akan seperti itu ? maka marilah kita menunggu detik-detik terakhir persiapan pelaksanaan kurikulum tersebut hingga dua bulan ke depan... selamat berdebar2... heheheh ditulis di Bandung, tepatnyda di Jl. Lemahneundeut.

Jumat, 27 Januari 2012

sejauh ini.....

Hari ini Adid masuk sekolah lewat pintu Andalas, seperti kemarin. selama dalam perjalanan tadi saya tanya dia mau lewat mana, dan jawabannya adalah lewat pintu andalas. dan sebelum menaiki tangga yang tinggi tersebut ia sebelumnya mengkonfirmasi saya dengan bertanya "Papi, naik tangga itu sehat di'?" saya jawab ia, berolahraga itu sehat. sesampai diatas di lorong menuju ruang kelas kembali ia bertanya"Papi tidak capek?" saya bilang tidak, kalo kita? dia bilang "kalo saya capek"saya liat dia ngos-ngosan setelah menaiki tangga sekolah tadi, ingusnya tambah sering keluar masuk, dan saya memberinya sapu tangan saya untuk dia lap ingusnya. setelah selesai ia mengkonfirmasi lagi "Papi, itu nanti terserap to? kalo lama-lama jadi hilang" ia katakan sambil menyerahkan sapu tangan saya yang sudah berlepotan dengan ingusnya, hasil dari menaiki tangga sekolah tadi.
Saya mengantar dia hingga ke dalam di teras toko athirah. Oleh karena satu bukunya belum ada, dan belum sempat saya ambilkan, padahal sudah lama gurunya mengkonfirmasi bahwa buku matematics 1b sudah ada di toko athirah, dan harganya 50.000. Beberapa hari lalu saya coba cari di toko buku dan saya dapat buku matematika 1b di monginsidi dan harganya 45.000 tapi karena ragu apakah itu memang bukunya sy konfirmasi ke ibunya dan ternyata bukan, judul bukunya adalah mathematics 1b. Kemarin sore saya singgah di toko erlangga dan menanyakan buku tersebut, erlangga mengatakan barangnya kosong, saya tanya harganya dan setelah petugas erlangga mengecek di komputer harganya 49.000. dan oleh karena hari ini belajar mathematics dan toko athirah buka jam 9 nanti, maka uang tuk beli buku tersebut saya berikan ke dia, juga uang buat jalan-jalan nantinya yang akan disetor pada gurunya. saya pesankan ke dia tuk bilang sama gurunya bahwa ada uang buat beli buku pada dia.
Sejauh ini, ada perkembangan soal hiruk-pikuk yang terjadi belakangan ini, pintu fatimah tadi pagi sudah dibuka dan anak-anak keluar masuk, tak satupun guru saya liat berjaga di pintu tersebut, sementara sejumlah guru justru banyak berjaga di jalur masuk pintu andalas, 2 orang dekat piket, 2 orang di tangga paling atas dan 2 lagi tingkat tengah tangga. Setiap anak yang datang harus menyalami satu persatu guru tersebut, dan guru tampak asyik bercanda dengan sesamanya dan disaat yang sama dengan penuh selidik mengamati setiap siswa yang datang.
Terjadi diskusi kecil dengan beberapa orang tua siswa yang saya temui, di depan pintu fatimah. beberapa orang tua menyebut pak direktur yang katanya lebih open minded, berbeda dengan kepala sekolah. beberapa hal yang dibicarakan adalah bahayanya pintu andalas, yang lantainya dari batu dan bukan tegel dimana saat pulang sekolah anak-anak biasanya berlarian dan saling dorong. Jika tidak ada yang mengawasi akan sangat berbahaya bagi anak-anak yang berdiri diatas tangga. konon tahun lalu sudah ada siswa yang pecah kepalanya karena jatuh di tangga tersebut. juga orang tua yang menyebut athirah sebagai sekolah mahal, tetapi fasilitas dan pembelajaran sama saja dengan sd inpres. Tentang les-les di sekolah serta bimbingan belajar. Jika anak-anak harus mengikuti les lagi lalu saat belajar memangnya bikin apa? atau itu berarti gurunya yang tidak bisa mengajar? semester lalu adid juga ikut les di sekolah, 4 kali dalam seminggu, dimana 2 mata pelajaran adalah pelajaran tambahan yang disediakan sekolah dan 2 lagi berbayar 50.000/bulan. waktu belajar setelah istirahat siang sehingga yang tadinya pulang sekolah jam 12.10 maka jika ikut less pulangnya jam 13 siang. Tapi semester ini berhenti. jika semester lalu nilai rapor adid masih diatas 80-an saya tidak tahu apakah masih akan seperti itu. jika saja sd athirah sama dengan beberapa sd inpress, maka siswa yang tidak ikut less yang dibina oleh gurunya, bagaimanapun pintarnya tidak memperoleh nilai bagus. ah mudah-mudahan tidak. ini kan sekolah Islam, tidak mungkin lah ada tipu-tipuan seperti itu.
Satu hal lagi yang dibicarakan orang tua tadi adalah mengenai tanggapan bapak direktur yang open minded tersebut, yang membuka diri untuk saran-saran dari orang tua murid, atau tokoh pendidik atau bahkan tokoh masyarakat untuk memberikan sumbangsih pemikirannya tuk kemajuan Athirah. ya, saran dan pemikiran serta ide-ide tuk kemajuan athirah, bagi kami sendiri sebetulnya sih tidah peduli apakah athirah maju atau tidak, yang penting adalah kemajuan belajar dan peningkatan kemampuan dari anak-anak kami yang sekolah di athirah, jadi seharusnya fokusnya adalah kemajuan siswa. Akan sangat berbeda jika fokusnya adalah kemajuan athirah, sebab bisa jadi Athirahnya hebat tapi didalamnya adalah siswa-siswa yang terdoktrinasi dengan keunggulan Athirah tapi tidak mampu memperlihatkan keunggulan dirinya. inipun sebuah pemikiran.
Membicarakan mengenai seperti apa pendidikan yang benar juga sebetulnya menjadi sangat luas pemikiran serta saran yang harus diberikan. membedakan mana pendidikan islam dan bukan saja sekarang susah di bedakan. kita bisa menyebut athirah sebagai sekolah Islam tapi apakah model pendidikan yang diterapkan di sekolah ini adalah model pendidikan Islam? apakah cara mendidik anak-anak pada jaman Nabi sama diterapkan di Athirah, guru-gurunya, murid-muridnya serta cara belajarnya. atau samakah dengan sekolah yang ada pada jaman kekhalifahan Islam yang berhasil melahirkan intelektual semacam Alkhawarizmi, asal muasal kata algoritma, jantung ilmu komputer, atau penemu awal mesin-mesin canggih yang cerdas abu Musa, atau Ibnu Sina, dokter bedah pertama disaat Inggris masih kental ilmu kleniknya, atau ilmuwan hebat lainnya yang kemudian diteruskan di dunia barat sehingga menjadi cikal bakal ilmu modern. dan versi sekolah yang diciptakan barat tersebutlah yang di copy paste ke sekolah di Indonesia.... ahhh terlalu jauh...
Model pendidikan sekolah yang di akui pemerintah ini sama atau turunan model pendidikan yang dijalankan sejak belanda berkuasa di tanah air. model ini juga sama dihampir semua negara di barat dan Amerika. Kiblat kita dalam mendirikan sekolah, dalam mengelola cara belajar adalah Amerika dan Barat. meskipun kita tetap menyebut sekolah model barat tersebut dengan sekolah Islam. Alhasil, Islam lebih diajarkan sebagai ilmu dengan penguasaan simbol-simbol keislaman, tetapi pengamalan nilai-nilai Islam itu menjadi tanda tanya. Alhasil Athirah sepertinya sama saja dengan SD Inpres, kecuali karena ada kata Islamnya dan kecuali berbeda jumlah pembayarannya, dan kecuali yang lain yang menyimbolkan adanya kemajuan Athirah. Inipun sebuah pemikiran.
Sejauh ini saya masih belum mengenal banyak tentang Athirah, Saya belum mengenal banyak guru-gurunya, seperti apakah guru-guru athirah tersebut. Dengan kepala sekolah saya hanya tau kata-kata yang beliau sampaikan lewat 2 kali sms, dengan direktur saya hanya membaca smsnya yang diforward ke saya dari ibu pengurus BMJ. Padahal mereka ini adalah pengganti kami sebagai orangtua kandung dari anak-anak yang sekolah disini. selama jam sekolah. mereka-mereka inilah yang akan turut membentuk jiwa anak kami, bahkan mungkin mendoktrin anak-anak kami. nilai-nilai apa yang akan ditanamkan mereka kepada anak kami? keteladanan apa yang akan mereka contohkan kepada anak-anak kami? sepertinya sama saja jika menyekolahkan anak kami ke sd inpres, kita sepenuhnya menyerahkan anak kami tuk dididik di sekolah, apapun yang terjadi disekolah, di rumah mungkin kita akan bertengkar dengan anak-anak karena adanya perbedaan apa yang kita yakini dengan apa yang diajarkan atau diterima anak-anak disekolah. saya tentu berharap sekolah ini dengan nama Islam yang disandanganya tentu akan mengajarkan nilai-nilai keislaman, bukan sekedar mengajarkan simbol, tetapi memberi contoh penerapan nilai-nilai islam tersebut. tapi apakah memang begitu?
Sejauh ini saya masih berharap, anak kami sekolah yang baik, disekolah yang baik, oleh guru yang baik sehingga hasilnya nanti juga baik.
Adapun beberapa letupan-letupan, ungkapan-ungkapan serta kata-kata yang terlanjur tertoreh dibeberapa tulisan sebelumnya, sejauh ini memukul balik perasaan saya, mencari cara melegakan perasaan, meminta maaf atas semua yang muncul tersebut, meski tak ada niat sama sekali untuk menjatuhkan, merendahkan ataupun semacamnya. muncul begitu saja. meledak begitu saja. awalnya saya kagum, tetapi kontradiksi antara nama dan kenyataan itulah yang memicu semua letupan tersebut.
Sejauh ini saya masih terus belajar mengendalikan diri.

Kamis, 26 Januari 2012

Pintu Masuk

Minggu-minggu ini saya banyak memikirkan tentang pintu masuk. Sejak akhir desember lalu ketika hari terakhir sekolah anak saya, ketika selesai pembagian rapor, pintu masuk yang selama ini nyaman kami lalui masuk dan keluar, tiba-tiba di gembok tidak bisa lewat. Untung masih ada pintu lain di dekatnya yang meski harus turun baru mendaki lagi, tetap bisa kembali ke kendaraan yang terparkir di luar pintu masuk. Beredar kabar kalau penggembokan itu disebabkan perintah dari seorang nyonya besar yang marah karena pintu masuk keluarnya terhalang oleh mobil orang tua siswa. Oleh karena si nyonya besar tercantum namanya dalam kepengurusan yayasan maka sinyonya besar, dengan otoritasnya, dengan powernya itulah sehingga mampu melangkahi dan mendahului pihak sekolah dalam membuat dan menerapkan aturan.
Hari berlalu, tahun berganti, dan mulailah kembali hari sekolah. Persoalan yang muncul di tahun sebelumnya soal pintu masuk ternyata berlanjut hingga tahun berikutnya. Pintu tetap dikunci sehingga yang terjadi adalah kreatifitas dari siswa dan orang tua siswa untuk tetap masuk lewat arah yang sama meski harus menyelinap lewat pagar yang bolong, atau diatas pagar atau berkeliling dulu layaknya petualang. Bagi orang tua yang menyerah terpaksa lewat pintu utama dan harus menyerah lagi karena tidak bisa menaiki tangga yang curam dan licin dan berbahaya bagi yang menderita sakit jantung, tepat seperti cerita bu Guru, barangkali orang tua siswa tersebut dahulunya malas naik tangga sehingga sekarang sakit jantung.
Sejak pertama kali mengenal sekolah ini, harapan yang begitu besar begitu membuncah dalam dada saya untuk bertekad menyekolahkan anak saya di sekolah ini, yang tampak teduh, adem, mewah, ramah dan terutama ISLAM. Sehingga di luar perkiraan dari teman-teman saya menyekolahkan anak saya di sini, sekolah yang bermutu ini, sekolah yang bergengsi dengan sejumlah prestasi, juga status sekolah sebagai satu-satunya rintisan sekolah bertaraf internasional di wilayah makassar, bahkan mungkin sulawesi setahu saya.
Sejak pertama saya tahunya pintu masuk sekolah hanyalah satu dan satu-satunya yaitu pintu utama. Berjalan waktu saya akhirnya menemukan satu demi satu pintu masuk yang bisa dilalui. Pertama saya menemukan pintu masuk belakang lewat asrama siswa dan berhenti dilapangan bola, kemudian saya menemukan pintu lainnya melalui perumahan baru dan ternyata masuk lewat pintu utama, kemudian ternyata ada pintu masuk lain lagi yaitu melalui samping masjid, dan terakhir saya menemukan lagi pintu lainnya yaitu lewat pintu LEC.
Semua pintu-pintu tersebut seolah menegaskan sekolah ini seperti penggambaran surga yang memiliki banyak pintu masuk, sehingga setiap orang beriman sesuai kadar amalnya akan memasuki surga lewat pintu-pintu yang disediakan atau sekehendaknya sesuai timbangan amalnya.
Sekolah memang seharusnya seperti surga, surga bagi anak-anak menemukan pengajaran, menemukan keteladanan dan contoh tentang hal-hal baik agar hal-hal baik tersebut terpatri dalam karakter anak sehingga kelak menjadi orang yang berpengetahuan luas serta memiliki karakter pribadi yang baik sesuai syariah.
Jangankan sekolah, pasar saja harusnya seperti masjid, suatu ketika Rasulullah SAW berkeliling Madinah mengunjungi pasar-pasar di kota Madinah, ada pasar orang Yahudi dan kemudian Rasul mengatakan pahwa pasar kita bukan yang begini. Ada pasar orang Nasrani dan Rasul kemudian mengatakan lagi bahwa pasar kita bukan begini, kemudian Rasulullah membuat pasar baru dan mengatakan bahwa inilah pasar kita. Pasar dimana tidak ada kecurangan, pasar dimana setiap penjual dengan jujur harus menyampaikan cacat barang yang dijualnya jika ada, pasar dimana siapapun bisa menempati lokasi manapun didalam pasar dan tidak dikapling-kapling orang tertentu.
ah... pasar yang demikian hanya ada di jaman Nabi, yang sekarang ada hanyalah nama-nama yang bernuansa islam, simbol-simbol yang dikukuhkan sebagai simbol islam, tetapi didalam tunggu dulu.
aaahhhhh..... sekolah yang mendidik anak-anak menjadi generasi hebat itu hanya ada di jaman Nabi dan juga dijaman beberapa kekhalifahan. Sekolah yang ada sekarang adalah sekolah model barat, yang turun-temurun di adaptasi terus dan dikawinkan dengan simbol-simbol islam sehingga jadilah sekolah islam model barat. Sekolah yang dengan disiplin mewajibkan siswa-siswanya memiliki buku teks, mewajibkan siswanya membeli buku teks disekolah(?). Padahal Steve Jobs sendiri mengkritik model pendidikan Amerika yang masih menggunakan buku teks, anak-anak harusnya belajar sesuai karakteristik minat dan kemampuannya dan tidak dipecah-pecah dalam struktur kurikulum yang parsial. Teknologi sekarang memungkinkan semua itu berjalan.... tapi.... tunggu dulu... itu butuh biaya besar, tidak akan cukup biaya bulanan yang hanya sebesar 500rb peranak perbulan tersebut membayar semua teknologi tersebut....
kembali ke soal pintu masuk...
Tadi malam saya dapat sms, isinya pihak sekolah akan membuka kembali pintu fatimah, sehingga anak-anak yang rumahnya dekat fatimah bisa masuk lewat pintu tersebut, juga yang diantar dengan motor, tetapi ini hanya untuk anak TK dan SD, adapun anak-anak yang diantar dengan mobil harus berhenti di luar portal disamping rumah nyonya besar, tidak lagi masuk hingga ke depan pintu pagar, atau lanjut lewat pintu andalas.
Hari ini saya mengantar anak saya, dan selalu saya tanya dia mau masuk lewat pintu mana? tampaknya doktrinasi guru terhadap anak-anak untuk menyuruh mereka masuk lewat pintu utama berhasil, dia minta lewat pintu utama, kemarin juga dia bilang tuk masuk lewat pintu utama, tetapi karena duluan mendapat pintu asrama, akhirnya masuk lewat pintu asrama, 2 hari lalu rencana masuk pintu utama tetapi karena ternyata betul ada pintu LEC, maka itulah kali pertama masuk lewat LEC. 3 hari ini saya selalu sempatkan datang lihat suasana pintu Fatimah, dan masih saya saksikan pemandangan miris itu, anak-anak yang menyelinap lewat bawah pagar, orang tua yang mengangkat anaknya lewat atas pagar, atau memutar dulu turun ke bawah, melewati tangga turun ke mendawai terus naik di dekat asrama dan kembali melompati pagar kantin seterusnya hingga ke ruang kelas masing-masing.
Inilah sekolah anak saya, sekolah RSBI, bermutu, bergensi dan sejumlah prestasi membanggakan. Inilah sekolah milik yayasan calon presiden idola, yang setiap penampilannya di televisi selalu menimbulkan decak kagum, yang selalu rasional dan sederhana dalam melihat persoalan bangsa ini, yang selalu punya ide-ide besar untuk kemandirian bangsa ini, yang selalu memudahkan segala urusan tanpa mau mempersulit. Saya yakin beliau tidak akan mempersulit anak-anak dengan membatasi pintu mana mau dimasuki, beliau memiliki rasionalitas khas bangsanya, dan bertentangan dengan rasionalitas barat yang banyak ditiru dalam pengelolaan bangsa ini, termasuk sekolah, beliau tidak akan sama dengan si nyonya besar.
Yang masalah sekarang kalau beliau mau lagi mencalonkan diri menjadi presiden..... beliau masuk lewat pintu mana? pintu besar yang sulit karena mendaki, atau pintu Fatimah yang lurus dan landai? ataukah pintu belakang bersama beberapa guru dan pegawai sekolah yang terburu-buru masuk karena sudah terlambat?

Selasa, 17 Januari 2012

1 minggu pertama semester 2 Adid Sekolah

Sekolah pertama di semester kedua dimulai hari Senin, tanggal 9 Januari 2012. Tidak seperti minggu pertama semester awal dulu, dimana Adid masih tahap adaptasi, masih sering menangis di ruang kelas dengan tangisan yang keras dan lama. sekarang Adid sudah lebih dewasa karena tidak menangis lagi.
Pada saat acara penerimaan rapor yang diterima oleh orangtua masing-masing, Nilai-nilai pelajaran sekolah Adid rata-rata diatas 80-an, namun demikian tidak ada rangking yang dicatat tuk Adid, nampaknya hanya untuk 3 nilai tertinggi yang diberi hadiah khusus. meski demikian kami cukup bergembira, minimal bahwa Adid bisa mengikuti pelajran sekolah mengingat umurnya pada saat masuk belum cukup 6 tahun.
Hal yang menyita perhatian justru adalah peristiwa yang berawal pada saat pembagian rapor semester 1. waktu itu saking membludaknya mobil-mobil orang tua siswa yang memenuhi jalan masuk pintu Fatimah, sebuah mobil ternyata parkir didepan pagar salah satu rumah besar mengakibatkan si empunya rumah tidak bisa keluar. Kemarahan nyonya besar di lampiaskan disekolah dimana pintu masuk diperintahkannya tuk digembok. Hal ini menyebabkan kami yang sudah selesai menerima rapor tidak bisa keluar lewat pintu. Kami terpaksa masuk lokasi masjid Fatimah turun ke area wudhu dan naik lagi di seberang pintu pagar besi yang digembok.
Penguncian pintu ternyata berlanjut di semester kedua ini, kali ini kami yang sudah terbiasa mengantar anak lewat pintu Fatimah di arahkan masuk pintu utama di Andalas. Jarak lebih jauh dan lebih berbahaya karena jalanan licin apalagi di musim hujan ini. Penguncian pintu Fatimah sepertinya juga tidak konsisten, di minggu pertama pintu belum dikunci tetapi mobil-mobil pengantar di arahkan tuk jalan terus menuju pintu andalas, sehingga hanya pengantar motor yang leluasa masuk, beberapa mobil juga bisa lewat pintu Fatimah ini sementara pintu belum dikunci. beberapa hari kemudian pintupun di kunci sehingga anak-anak masuk lewat tempat wudhu masjid. Namun di hari kedua minggu pertama, pemandangan miris terlihat dari anak-anak sekolah yang kebingungan dan terhambat untuk masuk sekolahnya, beberapa anak masuk lewat sela-sela pagar yang bolong, dan yang lain berjalan lebih jauh lagi karena pintu masjid menuju tempat wudhupun di kunci sehingga harus jalan terus lagi entah masuk lewat mana.
Sekolah Athirah yang awalnya terkesan bagus kali ini menunjukkan mukanya yang sebenarnya. muncul beberapa pertanyaan mengenai apakah memang athirah adalah sekolah yang baik bagi anak-anak muslim makassar? campur tangan orang-orang tertentu yang tidak diketahui kapabilitas kependidikannya juga kapabilitas moralnya dalam kegiatan pendidikan sekolah saya khawatirkan akan merusak tatanan sekolah, apalagi dengan kata Islam yang disandangnya. Bukan tidak mungkin sekolah ini akan diperlakukan tak lebih dari suatu institusi bisnis dari yayasan. Besarnya uang masuk, serta uang bulanan siswa, ditambah bantuan BOS(sesuai konfirmasi ka. sekolah tgl 24/1/2012, Athirah tidak menerima dana BOS), juga bantuan lain yang diberikan pemerintah adalah kapitalisasi rupiah yang sangat besar yang memungkinkan pemilik yayasan tuk hidup berfoya-foya atas nama pendidikan Islam.
Maka sudah saatnya pemerintah dan masyarakat makin sadar pentingnya pengawasan terhadap lembaga pendidikan, sebab ia adalah sebuah institusi amal dimana-mana orang-orang yang terlibat didalamnya adalah orang-orang yang berkarakter dasar memberi, para guru memberikan ilmu dan perhatiannya kepada kelanjutan belajar siswa, para donatur memberikan dananya tuk penyediaan fasilitas belajar, para pengelola memberikan perhatian tuk terlaksananya proses pembelajar dan pembentukan akhlak yang baik bagi semua siswa. Lingkungan sekolah harusnya adalah lingkungan suci yang bebas dari niat-niat menguasai untuk kepentingan pribadi orang tertentu.
Aksi penggalangan tanda tangan berupa pernyataan keprihatinan dari para orang tua siswa ditujukan untuk mengembalikan rel pendidikan sekolah athirah ke rel yang benar dan tidak terkooptasi oleh kepentingan orang tertentu dari siapapun. Sekolah adalah lembaga yang percayakan oleh para orang tua para siswa tuk mendidik anak-anaknya memahami ilmu pengetahuan, dan pembentukan akhlak yang Islami, sebagaimana nama yang disandang sekolah ini.

Selasa, 20 September 2011

Sekolah yang baik...

Sekolah harusnya baik, karena ia dibuat untuk menciptakan manusia-manusia baik. sekolah harusnya mengajarkan kebaikan, agar siapapun yang bersekolah menjadi manusia baik-baik. mencari sekolah yang baik mungkin pertama akan terasa gampang, karena koran, majalah, dan media lain selalu meberitakan sekolah yang sepertinya baik, baik karena fasilitas sekolahnya, gedung sekolahnya dan terutama bayarannya..
sekolah itu memasang iklan, memamerkan fasilitas sekolahnya, menjanjikan suasana belajar yang nyaman, mewah dan berkelas. tetapi kemudian sekolah itu hanya bisa dijangkau oleh orang berduit. orang yang punya kelebihan dan standar hidup mewah, suasana nyaman ada pada ruang sekolah secara fisik. Pengelola sekolah yang menghadapi orang berduit akhirnya juga mengutamakan duit, maka bukan masalah seperti apa belajarnya, tetapi seperti apa barangnya. sekolah bukan lagi mengajarkan kebaikan tetapi menghadirkan kemewahan.
lain dari itu yang jumlahnya banyak adalah sekolah negeri, sekolah yang dikelola oleh pemerintah, atau sekolah yang dibawah naungan pemerintah. mereka ini tidak beriklan, tetapi tetap diserbu. janji pejabat untuk pendidikan gratis, menyebabkan semua orang tua merasa tidak harus membiayai sekolah anaknya. orangtua membiarkan anaknya dididik oleh sekolah. sekolah yang dibiayai pemerintah, sekolah yang menjalankan administrasi sekolah, sekolah yang harus mempertanggungjawabkan dana yang diterima dari pemerintah. fokus sekolah adalah bagaimana memperoleh dana dari pemerintah, kemudian bagaimana menggunakan dana itu, kemudian bagaimana agar sekolah secara adminitrasi terus memperoleh nilai yang baik.lalu bagimana dengan muridnya...? murid harus mengikuti sistem, murid harus mengerjakan PR, murid harus patuh, taat, disiplin. bagimana dgn perasaan muridnya...? perasaan...? pokoknya murid harus belajar,patuh, taat dan disiplin titik.
banyak orang dari berbagai latar belakang masuk menajdi guru, guru honorer, guru-guru itu kemudian berusaha diangkat menajdi pegawai, guru-guru kemudian juga berusaha untuk disertifikasi, bagaimanapun caranya. sertifikat semeinar, pelatihan digandakan, ikut ato tidak pokoknya dpt sertifikat. tulisan di copy paste.. pokoknya ada tulisan... yang baik itu adalah materinya... punya ini dan itu....
sisi buruk....
sekolah harusnya menjadi tempat bagi mengkristalnya semangat belajar, semangat tuk tahu yang kemudian dibarengi dengan kejujuran. sebab pintar jka tidak jujur hanya melahirkan penipu-penipu yang merasa bisa menipu semua orang dengan argumentasi rasionalnya. sekolah juga harusnya menjadi tempat bagi mengkristalnya sifat berani dan teguh. berani menghadapi kenyataaan berani tuk jujur sejujurnya, serta konsisten, teguh pendirian untuk terus menyuarakan kebaikan berdasarkan ilmu pengetahuan.
sekolah seperti itu dimana?
ada sebuah sekolah yang tidak menyebut dirinya sebagai sekolah sebab akan kedengaran terlalu formalistik padahal ia bukan di jalur itu. Dibentuk oleh orang-orang yang dibiayai oleh pemerintah untuk memikirkan dan mengkaji seperti apa sekolah yang baik itu. berdirilah ia dan menerima murid dengan uang masuk gratis dan uang bulanan sekedarnya. berganti tahun ia bekerjasama dengan lembaga lain yang punya komitmen sama. uang masuk naik dan pembayaran bulanan juga naik. berikutnya tiap tahun naik pembayarannya. berikutnya ia mandiri di kelola sendiri tanpa lembaga lain. tetapi pembayaran uang masuknya naik hampir 2 kali lipat, bulanannya naik 50%. dan hasilnya.... wastafel tidak jalan krannya, anak-anak bermain seenaknya, kalo ada berkelahi orang tuanya yang pisahkan, kalo ada anak tidak masuk kelas, gurunya tidak cari......... saat jam bermain gurunya gak keliatan satupun ........ dan yang pasti gurunya tambah parlente....
Randi murid baru, baru pindah dari timur, di sana yang katanya terbelakang, sekolahnya dan gurunya memperlakukan ia dengan penuh perhatian, buku rapornya terarsip rapi dalam map rapor, ia diberi surat pindah serta sebuah form balikan untuk sekolah tujuan. biaya sekolahnya hanya seperenamnya, tapi wastafel jalan, ada sabun dan handuk bersih, APEnya ada dan terpakai tidak tersusun rapi hingga berdebu. dan ia diterima dengan hangat oleh gurunya, tidak ogah2an dan tanpa perhatian. mau masuk, masuk tidak ya tidak.
Sekolah baru harusnya lebih baik, karena ia dibentuk dan dikelola oleh orang2 yang sudah dibiayai serta menarik biaya yang lebih tinggi, dan ia memperoleh fasilitas yang banyak dan serba mudah........ padahal sekolah lama dibentuk oleh sebuah yayasan dan menarik biaya yang lebih rendah, dan ia ada di ujung timur, yang jauh dari fasilitas serba mudah...
akankah Randi bertahan di sekolah barunya? ataukah ia akan mengorbankan uang masuknya dan pindah ke tempat lain yang lebih baik, meski harus membayar lagi.......?
Pendidikan anak adalah investasi yang tidak bisa diukur dengan materi berapapun, selama mampu lebih baik menghindar dari potensi salah asuhan.... selama bisa lebih baik dicarikan sekolah yang lebih baik, sekolah yang akan menggelorakan semangat anak tuk tahu lebih banyak, memeliharan kejujuran, berani serta teguh dijalur kebaikan....
sekolahlah yang baik....

Popular Posts