Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2015

Dari Workshop Menjadi Enterpreneur sejak kecil....

Saya tiba-tiba mendapat sms dari seorang teman Guardian Angel yang mengabarkan bahwa dia ada di makassar. namanya Erick tertulis di phone name... awalnya saya mengira dia adalah Erick teman kuliah saya dulu.... tetapi dari balasan sms berikunya saya baru menyadari kalo ia adalah teman alumni Guardian Angel.... beliau berada di sekolah cendekia yang beralamat di Pao-pao Paccinongan Gowa.... akhirnya karena sudah sore dah sudah bersiap pulang maka saya menyampaikan bahwa saya akan singgah bertemu beliau ... ya sambil pulang.... setiba disana .. saya mendapati beliau sedang menyemangati guru-guru sekolah cendekia... ada bahan presentasi yang disampaikan sekaligus ada game-game yang dilakukan bersama guru-guru cendekia... karena acaranya menarik saya tinggal dan ikut kegiatan tersebut bergabung dengan para guru-guru tersebut.... ternyata beliau sudah hadir di Makassar di sekolah cendekia tersebut sejak kamis... dan rencananya besoknya akan mengadakan workshop menjadi enterpreneur sejak kecil yang diperuntukkan bagi anak-anak usia 10 tahun keatas atau SD kelas 4 sd SMP... acaranya menarik sehingga saya mengikutikan anak sulung saya bernama Sadid untuk kegiatan tersebut, bergabung dengan anak sekolah cendekia serta anak sekolah SMP Lazuadi GIS Makassar... dua sekolah ini adalah sekolah elit dengan jumlah pembayaran sekolah yang selangit menuruut ukuran kebanyakan kita, menurut ukuran saya yang PNS ....
Siapa Abi Erik...?
Abi Erik atau nama lengkapnya adalah Syamsul Bahri adalah guru dan kepala sekolah Citta Bangsa di Jakarta... sebelumnya beliau sempat berkarir diperusahaan milik PT S****M** dan kemudian resign... sekarang selain sebagai guru beliau juga mengembangkan kompetensinya menjadi trainer dan motivator khususnya bidang pendidikan.... beliau juga alumni perkuliahan Guardian Angel yang di gagas oleh Bapak @Munif Chatib ... penggagas sistem Sekolah Multiple Intelligence .... sekolah yang kurikulumnya di negeri sekarang dikenal sebagai kurikulum 2013... saya mengenal pertama kali Abi Erik tahun lalu pada salah saat perkuliaahan Guardian Angel Angkatan XIII, perkuliahan pertama di Makassar, dimana beliau waktu itu sedang mengisi pelatihan di salah satu di Makassar.
Apa itu Workshop Menjadi Enterpreneur sejak kecil?
Workshop satu hari ini berlangsung sejak jam 9pagi hingga jam 5 sore ... diisi dengan presentasi dan game-game tentang bagaimana merencanakan sukses bagi anak-anak sejak kecil ...
Acara pertama di mulai dengan game mengenal teman-temannya... kemudian presentasi tentang bagaimana memiliki Paradigma yang besar, memiliki harapan yang besar dan memiliki cita-cita yang besar .... acara dibawakan dengan santai dan penuh keceriaan.. anak-anak malah merasa mengikuti kegiatan senang-senang dan bukan duduk kaku mendengarkan sebagaimana seminar selama ini...
selanjutnya setelah anak-anak memahami 3 big tersebut yaitu big paradigma, big hope dan big dream ... seperti mata uang logam itu baru satu sisi, sisi sebelahnya yang harus dimiliki adalah sikap... yaitu sikap pada diri sendiri, sikap pada orang tua dan guru, sikap pada teman, sikap pada kegagalan.... anak-anak secara berkelompok diminta menuliskan sendiri sikap tersebut dan kemudian mempresentasikannya ...
selanjutnya anak-anak diminta menuliskan rencana suksenya berikut target tahun pencapaiannya... misalnya tamat SD tahun berapa, tamat SMP tahun berapa, tamat SMA tahun berapa, lulus kuliah tahun berapa dan setelah itu menjadi apa ... setiapanak menulliskan rencana suksesnya tersebut berikut keterangannya tempat...
setelah acara ini anak-anak dibagi 4 kelompok kemudian melakukan permainan dalam bentuk outbond di halaman sekolah.... setiap anak dalam kelompok kemudian bersaing berusaha memenangkan kelompoknya... ada 5 jenis lomba dan kemudian ditetapkan kelompok mana yang menjadi juara .... ada nuansa kompetisi dari masing-masing kelompok dan berlangsung sengit, menguras tenaga dan keharuan anak-anak... penontonpun ikut larut dalam menyemangati anak-anak.. guru-gurunyapun ikut bergabung dan menjadi bagian dari setiap kelompok...pokoknya seru dan penuh keceriaan...
acara terakhir diisi renungan... Abi Erik sangat piawai mengatur dan mengkondisikan suasana sehingga anak-anak larut dalam keharuan ketika mereka di tunjukkan film tentang sikap seorang anak yang telah dewasa kepada orangtuanya yang telah pikun.... suasana hikmat dan penuh makna...suasana tersebut kemudian dirasakan juga oleh setiap anak sehingga ketika anak-anak kemudian diminta untuk mendatangi orangtuanya untuk menyampaikan maaf dan salam taksim serta ucapan terima kasih ... anak-anak berlarian menemui orangtuanya masing-masing, menyalami dan mneciumi dengan penuh rasa sayang... suasana anatar anak dan orangtua berubah haru ... akan halnya Sadid, dia terdiam di tempat duduknya menangis terharu... demikianlah acara kemudian berakhir dan ditutup dengan keharuan mendalam.
Selepas acara ini, malamnya saya mengirimkan sms kepada Abi Erik mengucapkan terima kasih atas workshopnya, beliau menanya balik bagaimana Sadid, saya balas lagi bahwa Sadid sangat terkesan dan mudah-mudahan kami orangtuanya mampu terus mendampingi, memberi penguatan dan semogapai dia dapat menentukan dan menpai cita-citanya kelak....aaminn Ya Rabbal Alamin ....

Jumat, 13 Februari 2015

Guru berkualitas Guru Vs Guru berkualitas Buruh

Guru sejatinya di tiru dan di gugu. Guru adalah teladan. Setiap perbuatan guru seharusnya mencerminkan suatu sikap yang pantas di teladani. Meskipun guru bukanlah malaikat, tetapi guru berkewajiban untuk melaksanakan setiap perbuatan baik yang mampu dilakukannya karena perannya sebagai guru yang di tiru dan di gugu.
Namun faktanya perhatian terhadap kualitas guru ini sering seadanya, baik oleh orang sekitarnya maupun bagi guru itu sendiri. Tak jarang kita mendengar berita perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seorang guru sungguh di luar apa yang seharusnya di lakukan oleh seorang tauladan.
Suatu ketika saya mengkonfirmasi suatu kejadian yang dialami oleh anak saya di sekolah. Kejadian yang membuat anak saya mengalami cedera. Dengan sms yang isinya ditujukan kepada wali kelas serta direktur sekolah saya menanyakan kejadian tersebut. Tidak disangka respon cepat datang dari guru tersebut, bahkan menelpon berkali-kali baik ke nomor saya maupun ke nomor ibunya. Mengherankan karena selama ini sering sms yang kami kirim tidak dibalas. Tetapi ini sungguh mengejutkan.
Analisa saya, ini bukanlah karena cedera yang dialami anak saya di sekolah, tetapi karena pencantuman isi sms ke direktur sekolah yang sebenarnya tidak saya kirimkan. Tetapi sepertinya itu yang menjadi perhatian besar dari guru tersebut. Saya melihat bahwa guru tersebut lebih khawatir terhadap penilaian direktur dibanding mengkhawatirkan perannya sebagai guru. Ketakutan guru terhadap penilaian atasannya lebih diatas dibanding ketakutan guru terhadap kualitas perannya sebagai guru. Guru seperti ini saya sebut sebagai guru berkualitas Buruh. Lalu seperti apa guru yang berkualitas Guru? tentu saja adalah guru yang pantas di tiru dan di gugu.
Bagaimana guru bisa di tiru dan di gugu ? Tentu saja guru tersebut harus memerankan perilaku yang berkesan baik bagi siswanya. Guru yang setiap perbuatannya mencerahkan siswanya. Guru yang dalam menjalankan tugasnya tidak sekedar berdiri didepan kelas tetapi juga berdiri setiap saat manakala siswa membutuhkan perhatian dan nasehatnya. Peran khusus guru adalah menjelaskan suatu pengetahuan dalam matapelajaran tertentu kepada siswanya. Yang dengan penguasaan cara menyampaikan pengetahuan tersebut, siswa mencintai dan menyenangi pelajaran tersebut. Ini titik masuknya.
Ketika siswa menyenangi suatu pelajaran oleh karena cara guru membawakan materi pelajaran tersebut menjadi berkesan, maka selanjutnya siswa akan mengikuti dan mendengarkan nasehat gurunya. Guru tidak perlu khawatir dengan penilaian atasan, karena seorang atasan dari guru seharusnya mendorong gurunya untuk menjadi teladan bagi siswanya. Atasan seorang guru bukanlah seorang supervisor, atau mandor yang akan menilai pencapaian jumlah transaksi pembelajaran yang dilakuakn guru. Atasan seorang guru lebih berkonsentrasi terhadap kualitas interaksi antara dirinya dengan guru tersebut serta antara guru dan muridnya, kualitas interaksi yang bersandar pada nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai fitrah kemanusiaan. Kualitas seorang guru tidaklah lahir karena interaksi pembelajaran yang diikutinya lewat sebuat institusi pendidikan guru. Kualitas seorang guru haruslah bersumber dari dalam diri orang tersebut yang merasa memiliki panggilan jiwa untuk menjadi guru. Sebuah institusi pendidikan guru seharusnya menyeleksi setiap calon pesertanya adalah orang-orang yang memiliki keminatan untuk menjadi guru, bukan karena sekedar nilai-nilai akademik yang menjadi saringan masuknya. Instituri pendidikan guru tentunya berisi materi tentang bagaimana ketrampilan pedagogik tertinggi bisa dilaksanakan, bagaimana kerampilan mengajar tertinggi bisa di pelajari, bagaimana menilai kemajuan hasil pembelajaran. Semuanya bisa di pelajari tetapi tanpa dorongan dan sikap untuk menjadikan semua ketrampilan tersebut sebagai alat untuk mendidik manusia tentulah menjadi sia-sia.
Menjadi guru bukanlah sebuah profesi yang dinilai berdasar jumlah transaksi pembelajaran untuk di konversi dalam jumlah uang tertentu.
Guru adalah profesi yang sebenarnya tidak dibayar cuma dengan uang. Profesi guru adalah profesi kemuliaan. Ia melindungi dan memayungi orang-orang dari ketaktahuan, karenanya ia diselimuti kemuliaan. tetapi bagaimanapun, seorang guru adalah juga manusia. Ia bukan sepenuhnya malaikat tetapi ia mencerminkan perilaku sebagai malaikat. Ia seperti seorang malaikat penjaga (a guardian angel).
jadi seperti apa guru anda? seperti apa guru anak-anak anda? harap diingat, sepanjang guru tidak melakukan hal-hal merugikan dan terlarang baik secara etis apalagi hukum, masih ada kesempatan untuk mengajak guru meningkatkan kualitasnya. Hormati mereka. Sanjung mereka. Muliakan mereka. Tetapi, jika guru anda sudah berperilaku di luar norma kewajaran, bahkan seperti merokok sekalipun, maka STOP. Cukup Sudah. Masa depan anak-anak kita jauh lebih berharga daripada menyerahkannya kepada mereka yang tidak mengerti kualitasnya sebagai seorang Guru. Guru profesi mulia, bukan profesi perusak. Lebih baik mereka cari pekerjaan lain jika tidak bisa menjadi guru terbaik.

Popular Posts