Saya mencatat fokusnya ini kemudian saya coba uraikan lebih lanjut, yaitu bahwa orang tua sebagai sasaran program yang diharapkan mampu menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya. Dan jika melihat usia anak-anak dari 0 sampai 18 tahun maka pengembangan model program sebaiknya menyasar pada segmentasi tersebut yang terdiri 7 segmen. lebih lanjut segmentasi tersebut terdiri atas 1. model program pendidikan ayah bunda bagi calon orang tua, yaitu pasangan yang sudah akan memiliki anak, 2 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 0 sd 3 tahun, 3 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 4 sd 6 tahun (pre school), 4 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 7 sd 9 tahun (SD Bawah), 5 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 10 sd 12 tahun (SD atas), 6 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 13 sd 15 tahun (Usia SMP), dan 7 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 16 sd 18 tahun (Usia SMU).pembagian tersebut berdasarkan psikologi perkembangan anak, dan juga kemungkinan lembaga penyelenggara nanti adalah forum orang tua siswa di berbagai jenjang usia tersebut. pendapat ini sedikit berbeda dengan pendapat teman yang lain yang masih pada 3 segmen besar, yaitu model untuk pra nikah, setelah menikah dan orang tua. bagaimanapun jika melihat sasaran RPJM tentang jumlah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan keorangtuaan sebesar 39724 lembaga serta 255500 orang terjangkau, maka pendekatan pada segemntasi umur anak lebih tepat. program ini tinggal bekerja sama denga forum orangtua siswa pada setiap jenjang dan setiap sekolah formal. pada nonformla yaitu pada lembaga PKBM, LKP dan SKB/BPKB. maka orientasi identifikasi model nanti tinggal fokus pada seperti apa kurikulum dan bahan ajar pada orangtua tersebut.. mudah-mudahan bermanfaat
Tampilkan postingan dengan label balai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balai. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Maret 2015
Ke arah mana pendidikan ayahbunda
Hari ini rapat pertama pamong belajar pokja pendidikan ayahbunda/keluarga. Rapat dibuka oleh ketua pokja yang menyampaikan tentang ihwal dirinya masuk di pokja ayah bunda berdasarkan amanah dari kepala balai. yang meskipun terpaksa tetapi karena amanah maka harus dilaksanakan. Lanjut rapat pokja, selain personil pokja, struktur pokja juga sudah ditunjuk langsung dimana ketua dan sekretaris sudah tertulis langsung. saya sepertinya menduga 2 model dan 2 labsite juga sudah ada dan tinggal dilaksanakan. namun demikian saya tetap menyampaikan sebagian yang saya pikirkan tentang ke arahmana pengembangan program ini seharusnya dilaksanakan. meski ada pendapat lain yang berbeda baik terbuka dan mungkin nanti diam-diam. hehehhe Saat rapat berlangsung, kemudian kepala balai masuk dan kemudian langsung memberikan pengarahan tentang seperti apa pokja ini, menurut beliau pokja seperti ini sudah dibentuk sebelumnya di Bandung dengan nama pokja parenting, semarang belum ada kabar, dan makassar mengikut bandung mengikuti Kapus jayagiri yang mantan kepala balai makassar. informasi dari kementerian disampaikan oleh kepala balai adalah fokus dari direktorat ini adalah bagaimana ayah ibu berperan dalam mensukseskan tumbuh kembang anak. beliau juga menyampaikan apa-apa yang telah menjadi kajian lokal, regional dan internasional dari direktorat ini.
Saya mencatat fokusnya ini kemudian saya coba uraikan lebih lanjut, yaitu bahwa orang tua sebagai sasaran program yang diharapkan mampu menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya. Dan jika melihat usia anak-anak dari 0 sampai 18 tahun maka pengembangan model program sebaiknya menyasar pada segmentasi tersebut yang terdiri 7 segmen. lebih lanjut segmentasi tersebut terdiri atas 1. model program pendidikan ayah bunda bagi calon orang tua, yaitu pasangan yang sudah akan memiliki anak, 2 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 0 sd 3 tahun, 3 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 4 sd 6 tahun (pre school), 4 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 7 sd 9 tahun (SD Bawah), 5 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 10 sd 12 tahun (SD atas), 6 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 13 sd 15 tahun (Usia SMP), dan 7 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 16 sd 18 tahun (Usia SMU).pembagian tersebut berdasarkan psikologi perkembangan anak, dan juga kemungkinan lembaga penyelenggara nanti adalah forum orang tua siswa di berbagai jenjang usia tersebut. pendapat ini sedikit berbeda dengan pendapat teman yang lain yang masih pada 3 segmen besar, yaitu model untuk pra nikah, setelah menikah dan orang tua. bagaimanapun jika melihat sasaran RPJM tentang jumlah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan keorangtuaan sebesar 39724 lembaga serta 255500 orang terjangkau, maka pendekatan pada segemntasi umur anak lebih tepat. program ini tinggal bekerja sama denga forum orangtua siswa pada setiap jenjang dan setiap sekolah formal. pada nonformla yaitu pada lembaga PKBM, LKP dan SKB/BPKB. maka orientasi identifikasi model nanti tinggal fokus pada seperti apa kurikulum dan bahan ajar pada orangtua tersebut.. mudah-mudahan bermanfaat
Saya mencatat fokusnya ini kemudian saya coba uraikan lebih lanjut, yaitu bahwa orang tua sebagai sasaran program yang diharapkan mampu menjadi orangtua yang baik bagi anak-anaknya. Dan jika melihat usia anak-anak dari 0 sampai 18 tahun maka pengembangan model program sebaiknya menyasar pada segmentasi tersebut yang terdiri 7 segmen. lebih lanjut segmentasi tersebut terdiri atas 1. model program pendidikan ayah bunda bagi calon orang tua, yaitu pasangan yang sudah akan memiliki anak, 2 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 0 sd 3 tahun, 3 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 4 sd 6 tahun (pre school), 4 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 7 sd 9 tahun (SD Bawah), 5 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 10 sd 12 tahun (SD atas), 6 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 13 sd 15 tahun (Usia SMP), dan 7 model program pendidikan ayah bunda bagi orang tua dari anak usia 16 sd 18 tahun (Usia SMU).pembagian tersebut berdasarkan psikologi perkembangan anak, dan juga kemungkinan lembaga penyelenggara nanti adalah forum orang tua siswa di berbagai jenjang usia tersebut. pendapat ini sedikit berbeda dengan pendapat teman yang lain yang masih pada 3 segmen besar, yaitu model untuk pra nikah, setelah menikah dan orang tua. bagaimanapun jika melihat sasaran RPJM tentang jumlah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan keorangtuaan sebesar 39724 lembaga serta 255500 orang terjangkau, maka pendekatan pada segemntasi umur anak lebih tepat. program ini tinggal bekerja sama denga forum orangtua siswa pada setiap jenjang dan setiap sekolah formal. pada nonformla yaitu pada lembaga PKBM, LKP dan SKB/BPKB. maka orientasi identifikasi model nanti tinggal fokus pada seperti apa kurikulum dan bahan ajar pada orangtua tersebut.. mudah-mudahan bermanfaat
Rabu, 25 Februari 2015
Malu Padamu
Minggu 22 pebruari 2015, tak sengaja remote TV memencet satu saluran yang menampilkan seorang tokoh yang bercerita tentang aktivitasnya yang luar biasa. Namanya M. Saleh Yusuf, dia seorang supir bis antar kota di Nusa Tenggara dengan penghasilan maksimal Rp.2.500.000,- (dua juta lima ratus rupiah)jika bekerja. Prihatin dengan pendidikan anak-anak di daerahnya, beliau nekat membangun sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum. Guru di rekrut dari penduduk desanya yang sarjana namun menganggur. Gaji yang dia berikan ke guru tersebut diambil dari setengah penghasilannya sebagai supir bis yang dibagi rata dengan semua guru.
Sekolahnya dibangun diatas tanah milik orang tuanya. Bukan tidak ada masalah ketika tanah tersebut dibangun sekolah, sebab orangtuanya berencana menjual tanah tersebut untuk biaya naik haji. Namun beliau berhasil meyakinkan ayahnya bahwa pahala membangun sekolah jauh lebih besar dari naik haji. Dilihat dari penampilannya tidak nampak sebagai seorang penggiat pendidikan, rambutnya dipelihara tetap panjang, seperti preman. Alasannya karena dia hidup diatas jalan sebagai sopir bis antar kota yang rentan di palaki oleh preman, maka dengan penampilan tersebut setidaknya dia tidak digannggu oleh preman.
Suaranya berat rada berwibawa dan oleh host disebutnya sebagai suara mirip bang Haji Roma...mirip benar, apalagi jika sudah keluar kalimat bernada filosofis, kadang menyitir ayat suci alqur'an. Kiprah M. Saleh Yusuf ini sungguh luar biasa. dengan keyakinan bahwa jika mengusahakan sesuatu yang baik maka akan ada jalan kemudahan yang diberikan Tuhan benar-benar dia rasakan. salah satu usaha untuk menutupi kekurangan biaya sekolah, anak-anak sekolahnya setelah jam belajar di pekerjakannya dengan menanam tanaman sayur dan lain-lain. Hasilnya itulah yang digunakan untuk menambah biaya operasional sekolah.
Warga sekitar sekolah menjadi tertarik karena nyata sekali perbedaan anak-anak yang sekolah di darul ulum dengan sekolah lainnya. maka sekolah yang awalnya cuma terdiri 9 siswa kemudian berbondong-bondong masyarakat memasukkan anaknya sekolah di sekolah tersebut. atas aktivitas tersebut M.Saleh Yusuf mendapat bantuan senilai 100juta dari dermawan bersama 3 orang lainnya.
Jika membandingkan kiprah Pak Saleh ini maka seharusnya saya yang di gaji pemerintah untuk mengurusi pendidikan bisa berbuat lebih banyak dibanding beliau. rasanya kok saya masih saja sibuk menuntut lebih banyak dibanding berbuat lebih banyak..... lalu apa setelah ini ???? sungguh malu aku padamu Pak ....
Label:
anggaran pendidikan,
balai,
sekolah
Selasa, 24 Februari 2015
Membahas Program
Menjadi rutin setiap awal tahun, berbagai rapat dilaksanakan untuk mempersiapkan pelaksanaan program demikian pula di balai ppnfi. Beberapa waktu lalu bahkan telah dilaksanakan Rapat Kerja Tahunan dan penyusunan Draft Renstra Balai 2015-2019. Pada raker tersebut, beberapa hal didiskusikan termasuk presentasi setiap unit kerja mengenai program kerja tahunan mereka. satu yang menarik yang saya cermati adalah bagaimana peran fungsional pamong belajar sebagai tenaga pendidik, jika dibandingkan dengan dosen pada perguruan tinggi atau litbang dan marketing pada perusahaan bisnis seperti apple.
Pada apple, peran penting terletak pada litbang yang menghasilkan produk terbaik, kemudian marketing yang memasarkan produk tersebut, sehingga apple muncul sebagai perusahaan terkemuka yang menghasilkan produk terbaik yang diikuti dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Pada perguruan tinggi, tenaga utama adalah dosen yang melaksanakan pembelajaran dan penelitian sehingga mampu menemukan teori-teori baru dan solusi terhadap permasalahan sesuai bidangnya keilmuannya.
Lalu bagaimana dengan pamong belajar di balai? Jika kita menganggap pamong belajar sebagai pelaksana utama dari core atau tupoksi balai, maka seharusnya unit-unit lain dibentuk untuk memfasilitasi terlaksananya pengembangan dan penyusunan model program, baik model kursus dan pelatihan, paud, maupun dikmas yang dilaksanakan oleh pamong belajar. Tidak ada pengembangan model program selain oleh pamong belajar.
Sebagaimana diketahui, untuk mengkoordinir pelaksanaan tupoksi balai, kepala balai dibantu oleh 3 seksi dan 1 subag. Ke 3 seksi adalah program, fasilitasi sumberdaya dan informasi dan publikasi. Keberadaan seksi tersebut harusnya bersifat timbal balik dengan pekerjaan pengembangan model program oleh pamong belajar. Demikian pula keberadaan seksi informasi dan publikasi/humas yang bukan cuma menerima hasil pengembangan pamong belajar untuk kemudian dipamerkan kemana-mana, seksi informasi juga seharusnya mensuport tugas-tugas pengembangan dengan menyuplai data pendidikan terkait yang dibutuhkan untuk dasar pengembangan program.
Seksi program mengkoordinir bidang-bidang pengembangan yang perlu di pertajam sehingga berbagai program pengembangan dari 3 pokja juga bisa saling mendukung. seksi program juga mengatur lapangan pekerjaan dari masing-masing pokja agar tidak ada saling caplok pekerjaan.
Ada yang krusial pula didalam fokus pengembangan model program. misalnya pada model program kursus dan pelatihan yang terdiri PKH, PKM dan desa vokasi. model PKH seharusnya fokus pada penciptaan angkatan kerja yang lulusannya bisa bekerja dalam suatu jabatan pekerjaan. Model PKM fokus pada bagaimana angkatan kerja bisa berwirausaha dalam suatu bidang. Tetapi yang terjadi adalah diskusi yang kabur pada vokasi atau obyek, seolah berusaha menyaingi bagaimana menciptakan teknologi vokasi. Seharusnya pada model PKH yang diupayakan adalah menemukan teknologi perubahan perilaku menjadi mampu bekerja dalam jabatan vokasi tertentu. pada model PKM adalah teknologi perubahan perilaku menjadi mampu berwirausaha dalam bidang tertentu. Jika vokasinya adalah kripik pisang, maka fokus pengembanganya bukan pada bagaimana teknologi kripik pisang yang baik, tetapi kalau PKH maka bagaimana kursus untuk membuat orang bekerja pada perusahaan kripik pisang, atau kalau PKM adalah kursus bagaimana berwirausaha dengan kripik pisang.
Mengenai jenis program yang dikembangkan, pada buku "planning better program" disebutkan bahwa ada 3 jenis program yang dikembangan yaitu 1. developmental, 2 institusional, 3 informational.
Pada jenis program developmental, program yang di modelkan adalah bagaimana membuat masyarakat bisa mandiri dalam kewirausahaan kripik pisang dimana model kursus yang dihasilkan adalah model TOT sehingga masyarakat bisa menyelesikan sendiri permasalahan dalam kewirausahaan kripik pisang. pada jenis program institusional, program yang dimodelkan adalah bagaimana melaksanakan kursus dan pelatihan pada sejumlah orang sehingga memperoleh kompetensi tertentu dalam kewirausahaan kripik pisang. model ini yang akan di duplikasi untuk dilaksanakan oleh masyarakat setelah mengikuti program developmental. pada jenis program informational, program yang dimodelkan adalah modul-modul informasi berupa bahan belajar, atau materi terkait tentang kewirausahaan kripik pisang. Saya belum menemukan dimana titik temu dari semua model yang telah dikembangkan dan posisi pengembangannya, nampaknya proses bisnis yang terjadi selama ini tidak lebih dari sekedar melaksanakan program yang tersedia, tetapi benang merah dari semua program belum nampak jalinannya.... masih benang kusut... atau mungkin cuma saya yang kusut ....
Pada apple, peran penting terletak pada litbang yang menghasilkan produk terbaik, kemudian marketing yang memasarkan produk tersebut, sehingga apple muncul sebagai perusahaan terkemuka yang menghasilkan produk terbaik yang diikuti dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Pada perguruan tinggi, tenaga utama adalah dosen yang melaksanakan pembelajaran dan penelitian sehingga mampu menemukan teori-teori baru dan solusi terhadap permasalahan sesuai bidangnya keilmuannya.
Lalu bagaimana dengan pamong belajar di balai? Jika kita menganggap pamong belajar sebagai pelaksana utama dari core atau tupoksi balai, maka seharusnya unit-unit lain dibentuk untuk memfasilitasi terlaksananya pengembangan dan penyusunan model program, baik model kursus dan pelatihan, paud, maupun dikmas yang dilaksanakan oleh pamong belajar. Tidak ada pengembangan model program selain oleh pamong belajar.
Sebagaimana diketahui, untuk mengkoordinir pelaksanaan tupoksi balai, kepala balai dibantu oleh 3 seksi dan 1 subag. Ke 3 seksi adalah program, fasilitasi sumberdaya dan informasi dan publikasi. Keberadaan seksi tersebut harusnya bersifat timbal balik dengan pekerjaan pengembangan model program oleh pamong belajar. Demikian pula keberadaan seksi informasi dan publikasi/humas yang bukan cuma menerima hasil pengembangan pamong belajar untuk kemudian dipamerkan kemana-mana, seksi informasi juga seharusnya mensuport tugas-tugas pengembangan dengan menyuplai data pendidikan terkait yang dibutuhkan untuk dasar pengembangan program.
Seksi program mengkoordinir bidang-bidang pengembangan yang perlu di pertajam sehingga berbagai program pengembangan dari 3 pokja juga bisa saling mendukung. seksi program juga mengatur lapangan pekerjaan dari masing-masing pokja agar tidak ada saling caplok pekerjaan.
Ada yang krusial pula didalam fokus pengembangan model program. misalnya pada model program kursus dan pelatihan yang terdiri PKH, PKM dan desa vokasi. model PKH seharusnya fokus pada penciptaan angkatan kerja yang lulusannya bisa bekerja dalam suatu jabatan pekerjaan. Model PKM fokus pada bagaimana angkatan kerja bisa berwirausaha dalam suatu bidang. Tetapi yang terjadi adalah diskusi yang kabur pada vokasi atau obyek, seolah berusaha menyaingi bagaimana menciptakan teknologi vokasi. Seharusnya pada model PKH yang diupayakan adalah menemukan teknologi perubahan perilaku menjadi mampu bekerja dalam jabatan vokasi tertentu. pada model PKM adalah teknologi perubahan perilaku menjadi mampu berwirausaha dalam bidang tertentu. Jika vokasinya adalah kripik pisang, maka fokus pengembanganya bukan pada bagaimana teknologi kripik pisang yang baik, tetapi kalau PKH maka bagaimana kursus untuk membuat orang bekerja pada perusahaan kripik pisang, atau kalau PKM adalah kursus bagaimana berwirausaha dengan kripik pisang.
Mengenai jenis program yang dikembangkan, pada buku "planning better program" disebutkan bahwa ada 3 jenis program yang dikembangan yaitu 1. developmental, 2 institusional, 3 informational.
Pada jenis program developmental, program yang di modelkan adalah bagaimana membuat masyarakat bisa mandiri dalam kewirausahaan kripik pisang dimana model kursus yang dihasilkan adalah model TOT sehingga masyarakat bisa menyelesikan sendiri permasalahan dalam kewirausahaan kripik pisang. pada jenis program institusional, program yang dimodelkan adalah bagaimana melaksanakan kursus dan pelatihan pada sejumlah orang sehingga memperoleh kompetensi tertentu dalam kewirausahaan kripik pisang. model ini yang akan di duplikasi untuk dilaksanakan oleh masyarakat setelah mengikuti program developmental. pada jenis program informational, program yang dimodelkan adalah modul-modul informasi berupa bahan belajar, atau materi terkait tentang kewirausahaan kripik pisang. Saya belum menemukan dimana titik temu dari semua model yang telah dikembangkan dan posisi pengembangannya, nampaknya proses bisnis yang terjadi selama ini tidak lebih dari sekedar melaksanakan program yang tersedia, tetapi benang merah dari semua program belum nampak jalinannya.... masih benang kusut... atau mungkin cuma saya yang kusut ....
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Macca Na Malempu, Warani na Magetteng telah dibahas dalam 2 tulisan sebelumnya. 4 sifat tersebut adalah 4 sifat yang akan menyempurnakan pri...
-
menurut yang saya pahami setidaknya ada beberapa versi yang dimaksud dengan sulapa eppa, yang pertama adalah "macca na malempu, warani ...
-
Meme " disitu terkadang saya merasa sedih " dipopulerkan oleh seorang polis bernama Brigpol Dewi Sri Mulyani. tadi malam buka-buka...
-
Warani na Magetteng adalah dua sifat yang benar-benar harus dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjalankan pemerintahan secara berwib...
-
Ya itulah nama anakku. Nama itu muncul sebelumnya dengan tulisan Siti Khumaerah, sebutan yang menurutku tepat, enak disebutkan dan terasa ad...
-
ada tulisan di koran harian Fajar hari ini tentang sifat pemimpin yang Jujur, Pintar, Pembohong ato Bodoh. Penulisnya dosen Sosiologi UIN Al...
-
Ramang, sebuah nama yang samar, tidak banyak yang mengetahui siapa dia tapi minimal barangkali banyak orang yang pernah mendengar namanya. ...
-
Average High adalah sebutan untuk kelompok kecil orang dengan kemampuan diatas rata-rata anggota kelompok yang lain. dulu waktu sekolah, ada...
-
Macca na Malempu. rangkaian kata diatas dikutip dari naskah bugis kuno. rangkaian kata itu berarti pintar dan jujur. Macca(=pintar) Na(=dan)...
-
iya.. disingkat ABM... sebuah organisasi pelatihan basket yang berasal dari Amerika... telah hadir di makassar dan salah satu tempat pelatih...
