Tampilkan postingan dengan label PAUDNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUDNI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Maret 2015

Membayangkan masalah ayahbunda


Bayangkan, jika anda sebagai pasangan suami istri dan si istri sudah hamil untuk anak pertama, anda dalam keadaan bingung dan was-was bagaimana menghadapi kelahiran anak anda, pengetahuan apa yang anda butuhkan, sikap apa yang dibutuhkan dan bagaimana ketrampilan yang di butuhkan selama kehamilan anak tersebut ?.... anda perlu sebuah pelatihan atau sekolah untuk calon orantua. Tetapi dimana anda memperoleh pelatihan tersebut, dan bagaimana pembelajarannya dan berapa lama...??
Ketika anak anda lahir, tantangan baru pun muncul, kesulitan baru muncul dan bertambah banyak, anda boleh mengabaikan semua kebutuhan anak anda, anda boleh menyerahkan semua tradisi keluarga berjalan apa adanya, tetapi apakah ini yang terbaik untuk perkembangan anak anda...??? Jika tidak, anda perlu sekolah lagi untuk menperoleh kompetensi sebagai orangtua dari anak usia dini... dan untuk setiap tahapan perkembangan anak berikutnya, anda membutuhkan kompetensi baru dari orangtua untuk mengimbangi dan memaksimalkan potensi tumbuh kembang anak.
Jika pada 4 tahun pertama, anak anda tumbuh dan berkembang di rumah, sejak usia 4 sampai 6 tahun anak anda sudah masuk kelompok bermain dan TK, anak anda sudah masuk sekolah dan anda sudah perlu bekerjasama dengan sekolah dalam mendiskusikan perkembangan anak anda.... inilah fase pertama anda bekerjasama dengan guru anak anda, kerjasama ini akan berlanjut ketika anak anda sudah masuk SD, kemudian SMP, dan SMA. Bahkan ketika sudah mulai kuliah semester awal, anda masih saja dibutuhkan anak anda.... Pada setiap tahapan tersebut, anda butuh kompetensi baru dan khusus... dan kembali pertanyaannya dimana anda memperoleh kompetensi tersebut, dalam bentuk apa dan seperti apa prosesnya... ???
Saya membayangkan sekolah untuk anda memperoleh kompetensi tersebut, di setiap tahap dan tema tertentu, perlu dirancang dan dirumuskan programnya untuk dimodelkan. Siapa yang akan mengembangkan model programnya ini?
Dimasyarakat, oleh pihak swasta dan instansi pemerintah lain, sudah ada sebagian materi dan sekolahnya, masalahnya program-program tersebut perlu di kurasi, serta di integrasikan secara menyeluruh dari seluruh aspek dan tahapan perkembangan anak, sebab ini bukan cuma masalah gizi dan kesehatan, tetapi lebih luas dari itu ini adalah masalah pendidikan anak.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah membentuk direktorat baru yang bernama Direktorat Pendidikan Keluarga, yang sebelumnya dalam rancangan sempat disebut sebagai direktorat keayahbundaan. Dasar berpikirnya berdasarkan sejumlah berita dari akun facebook kementerian adalah orangtua sebagai pendidik utama dan terutama dalam kehidupan seorang anak selama ini belum tergarap dengan baik untuk mempersiapkan mereka sebagai pendidik di rumah.
Direktorat Pendidikan keluarga ini berada dibawah ditjen PAUD dan Dikmas, dan dibawahnya ada 2 Unit Pelaksana Teknis berbentuk PP-PAUDNI berlokasi di Jayagiri, Bandung dan Ungaran, Semarang. Selain itu ada 8 UPT berbentuk BP-PAUDNI, yang salah satunya BP-PAUDNI Reg.III di Makassar dengan wilayah kerja seluruh propinsi di pulau Sulawesi. Juga ada UPTD di setiap Propinsi bernama BPKB dan disetiap Kabupaten ada 1 atau lebih UPTD bernama SKB. Pada masing-masing UPT tersebut terdapat sejumlah tenaga fungsional pendidik bernama Pamong Belajar, yang sebagiannya lagi berkonsentrasi atau di konsentrasikan pada pengembangan program pendidikan keluarga ini...
Terdapat sekitar 3000 lebih tenaga fungsioanl Pamong Belajar di seluruh Indonesia, jumlah ini sangat kecil dibanding tenaga fungsional guru yang jumlahnya mencapai ratusan ribu. Tetapi tugas pokok dan fungsi pamong belajar dengan sasaran peserta didik adalah orang-orang di luar sekolah, termasuk orangtua apalagi dengan tambahan kajian pendidikan keorangtuaan ini memerlukan dukungan semua pihak, untuk menambah jumlah pamong belajar serta disaat yang sama meningkatkan kualitas pamong belajar. tentu disertai peningkatan tunjangan kesejahteraan pula.
Dalam hal pendidikan Keluarga bukan cuma garis kebijakan mengenai pendidikan keluarga ini yang harus jelas, tetapi juga orang-orang yang seharusnya terlibat dalam pengembangan model program ini, dalam hal ini adalah pamong belajar pada pokja pendidikan keluarga disetiap UPT dan UPTD perlu memiliki persepsi dan pemahaman yang sama... agar target-target pencapaian seperti tercantum dalam RPJM yaitu sekitar 59ribu lembaga yang menyelenggarakan pendidikan keorangtuaan, serta sekitar 200ribu orangtua mengakses pendidikan keorangtuaan bisa tercapai.
Seperti apa program pendidikan keorangtuaan tersebut? barangkali adalah program yang menjawab permasalahan orang tua yang tertulis diawal tulisan ini..... tetapi apakah seperti itu??? apakah yang benar adalah seperti model program Pra-Nikah yang dikembangkan BPKB DIY? ataukah model program assisompungen yang pernah dikembangan BPPAUDNI Reg.III Makassar?
wallahu alam bissawab ...

Selasa, 24 Februari 2015

Membahas Program

Menjadi rutin setiap awal tahun, berbagai rapat dilaksanakan untuk mempersiapkan pelaksanaan program demikian pula di balai ppnfi. Beberapa waktu lalu bahkan telah dilaksanakan Rapat Kerja Tahunan dan penyusunan Draft Renstra Balai 2015-2019. Pada raker tersebut, beberapa hal didiskusikan termasuk presentasi setiap unit kerja mengenai program kerja tahunan mereka. satu yang menarik yang saya cermati adalah bagaimana peran fungsional pamong belajar sebagai tenaga pendidik, jika dibandingkan dengan dosen pada perguruan tinggi atau litbang dan marketing pada perusahaan bisnis seperti apple.
Pada apple, peran penting terletak pada litbang yang menghasilkan produk terbaik, kemudian marketing yang memasarkan produk tersebut, sehingga apple muncul sebagai perusahaan terkemuka yang menghasilkan produk terbaik yang diikuti dengan angka penjualan yang sangat tinggi. Pada perguruan tinggi, tenaga utama adalah dosen yang melaksanakan pembelajaran dan penelitian sehingga mampu menemukan teori-teori baru dan solusi terhadap permasalahan sesuai bidangnya keilmuannya.
Lalu bagaimana dengan pamong belajar di balai? Jika kita menganggap pamong belajar sebagai pelaksana utama dari core atau tupoksi balai, maka seharusnya unit-unit lain dibentuk untuk memfasilitasi terlaksananya pengembangan dan penyusunan model program, baik model kursus dan pelatihan, paud, maupun dikmas yang dilaksanakan oleh pamong belajar. Tidak ada pengembangan model program selain oleh pamong belajar.
Sebagaimana diketahui, untuk mengkoordinir pelaksanaan tupoksi balai, kepala balai dibantu oleh 3 seksi dan 1 subag. Ke 3 seksi adalah program, fasilitasi sumberdaya dan informasi dan publikasi. Keberadaan seksi tersebut harusnya bersifat timbal balik dengan pekerjaan pengembangan model program oleh pamong belajar. Demikian pula keberadaan seksi informasi dan publikasi/humas yang bukan cuma menerima hasil pengembangan pamong belajar untuk kemudian dipamerkan kemana-mana, seksi informasi juga seharusnya mensuport tugas-tugas pengembangan dengan menyuplai data pendidikan terkait yang dibutuhkan untuk dasar pengembangan program.
Seksi program mengkoordinir bidang-bidang pengembangan yang perlu di pertajam sehingga berbagai program pengembangan dari 3 pokja juga bisa saling mendukung. seksi program juga mengatur lapangan pekerjaan dari masing-masing pokja agar tidak ada saling caplok pekerjaan.
Ada yang krusial pula didalam fokus pengembangan model program. misalnya pada model program kursus dan pelatihan yang terdiri PKH, PKM dan desa vokasi. model PKH seharusnya fokus pada penciptaan angkatan kerja yang lulusannya bisa bekerja dalam suatu jabatan pekerjaan. Model PKM fokus pada bagaimana angkatan kerja bisa berwirausaha dalam suatu bidang. Tetapi yang terjadi adalah diskusi yang kabur pada vokasi atau obyek, seolah berusaha menyaingi bagaimana menciptakan teknologi vokasi. Seharusnya pada model PKH yang diupayakan adalah menemukan teknologi perubahan perilaku menjadi mampu bekerja dalam jabatan vokasi tertentu. pada model PKM adalah teknologi perubahan perilaku menjadi mampu berwirausaha dalam bidang tertentu. Jika vokasinya adalah kripik pisang, maka fokus pengembanganya bukan pada bagaimana teknologi kripik pisang yang baik, tetapi kalau PKH maka bagaimana kursus untuk membuat orang bekerja pada perusahaan kripik pisang, atau kalau PKM adalah kursus bagaimana berwirausaha dengan kripik pisang.
Mengenai jenis program yang dikembangkan, pada buku "planning better program" disebutkan bahwa ada 3 jenis program yang dikembangan yaitu 1. developmental, 2 institusional, 3 informational.
Pada jenis program developmental, program yang di modelkan adalah bagaimana membuat masyarakat bisa mandiri dalam kewirausahaan kripik pisang dimana model kursus yang dihasilkan adalah model TOT sehingga masyarakat bisa menyelesikan sendiri permasalahan dalam kewirausahaan kripik pisang. pada jenis program institusional, program yang dimodelkan adalah bagaimana melaksanakan kursus dan pelatihan pada sejumlah orang sehingga memperoleh kompetensi tertentu dalam kewirausahaan kripik pisang. model ini yang akan di duplikasi untuk dilaksanakan oleh masyarakat setelah mengikuti program developmental. pada jenis program informational, program yang dimodelkan adalah modul-modul informasi berupa bahan belajar, atau materi terkait tentang kewirausahaan kripik pisang. Saya belum menemukan dimana titik temu dari semua model yang telah dikembangkan dan posisi pengembangannya, nampaknya proses bisnis yang terjadi selama ini tidak lebih dari sekedar melaksanakan program yang tersedia, tetapi benang merah dari semua program belum nampak jalinannya.... masih benang kusut... atau mungkin cuma saya yang kusut ....

Kamis, 02 Februari 2012

Rapat Paripurna

Sudah 3 hari ini rapat paripurna dilaksanakan di kantor, dimulai sejak tgl 30 Januari lalu dan insya Allah besok tanggal 2 Pebruari adalah hari terakhir rapat paripurna. Di hari pertama sesi pagi presentasi dilaksanakan oleh seksi program yang mempresentasikan program kerja yang akan dilaksanakan atau di komandoi oleh seksi program. Dalam kata awalnya, kasi program lebih dulu menyampaikan prihal SK pensiun yang sudah berada di tangannya, yang terhitung mulai bulan Maret nanti, kasi program sudah akan pensiun. berbagai program kerja satu persatu dipresentasikan yang terdiri nama kegiatan, sasaran dan jumlah dana. salah satu yang menarik dari program kerjanya adalah penyusunan draft dan buku bahan ajar sejumlah 35 judul. Penyusunan buku ini di pecah menjadi 2 kegiatan yaitu penyusunan draft buku dengan rata-rata biaya kurang lebih 2jt perjudul, serta penyusunan buku dengan rata-rata anggaran kurang lebih 6jt perjudul.
Muncul pertanyaan terkait penyusunan buku ini diantaranya adalah bagaimana mekanisme pengajuan kegiatan ini, serta buku seperti apa yang akan dibuat. Namun sebelum dijawab oleh kasi program, ka balai sudah menjawab duluan dengan mengatakan bahwa peserta jangan bertanya dulu teknis pelaksanaan kegiatan tersebut oleh karena ini baru awal, seksi program belum mempunyai konsep seperti apa kegiatan ini untuk itu berilah saran dan pendapat bagaimana kegiatan ini akan dilaksanakan.
Pada sesi siang, presentasi dilaksanakan oleh 3 pokja fungsional yang mana dalam presentasinya hampir semua menyajikan jenis kegiatan yang sama seperti pengembangan model yang terdiri 3 judul ditambah 1 judul model P2TK, diklat pamong belajar, penyusunan buku, pengkajian program dan percontohan program.
Pada hari kedua rapat diisi dengan perkenalan sekaligus penjelasan tentang mekanisme pertanggungjawaban keuangan yang disampaikan oleh kabag keuangan setditjen Paudni bapak Eko. yang menarik dari penjelasan beliau, dibalik seriusnya penjelasan beliau diselipi dengan istilah-istilah yang mengundang tawa dan komentar peserta rapat, serta cerita-cerita yang terjadi seputar teman2 di lingkungan paudni. Beberapa istilah yang diperkenalkan adalah seperti istri pejabat, bodi terano, cuti dll. istilah dan cerita tersebut untuk mengimbangi barangkali materi yang beliau jelaskan tentang mekanisme keuangan yang menuntut ketelitian dan kedisiplinan dalam penggunaan anggaran. Pertanyaan yang muncul juga seputar bagaimana laporan pertanggungjawaban keuangan yang dilaksanakan oleh mitra.
kamis, 2-2-12
Pada hari ketiga, rapat diisi dengan presentasi yang dilakukan oleh subag TU dan seksi fasilitasi yang dilaksanakan secara panel, pada sesi tanggapan beberapa teman mempertanyakan hal-hal yang dianggap penting diantaranya soal penggunaan mobil kantor, soal toilet yang tidak beres baik aula maupun lantai 2 pamong belajar, juga tentang penghapusan barang yaitu kendaraan roda empat yang aan dilelang. Khusus tuk seksi fasilitasi diantara kegiatan yang dilakukan adalah pengkajian serta evaluasi model inovasi. Disini seksi fasilitasi juga memerankan tugas balai yaitu melakukan pengkajian dan analisis program pendidikan nonformal yang sejatinya menjadi tupoksi tenaga fungsional. Demikian juga saat presentasi kasubag TU diantaranya ada kegiatan pengadaan komputer server serta jaringan interanet, yang dimaklumi selama ini sebenarnya menjadi kegiatan dari seksi informasi.
Pada presentasi seksi informasi yang dibawakan setelah kasubag tu dan kasi fasilitasi memberikan konformasi atas tanggapan peserta rapat, di presentasikan beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh seksi Informasi diantaranya kelanjutan program desa cyber yang sudah berjalan 4 tahun, peserta mempertanyakan apakah desa cyber tersebut sebagai sebuah program apakah didahului dengan membuat modelnya dulu, bahkan peserta mempertanyakan manakah yang duluan model dulu atau program. Pelaksanaan radio PLS yang ditanggapi peserta bahwa sebagai radio PLS justru tidak menampilkan materi siaran tentang PLS seperti life skill, keaksaraan dll, selain itu jangkauan siaran radio PLS yang sekarang ternyata hanya disekitaran adyaksa saja, padahal dulu ketika pertama kali radio PLS mengudara, siarannya justru sampai hingga ke Belanda (Belakang Daya) sejauh 20km. Justru pada program pengembangan website kantor disampaikan oleh pemateri bahwa website memerlukan update informasi secara rutin sementara tenaga yang melaksanakan itu hanya satu orang, juga terkait adanya email yang masuk menanyakan soal program kantor dimana pengelola web yang ingin menjawab soal tersebut tapi kerepotan karena merasa tidak tahu apa-apa tentang itu. untuk hal ini peserta mengusulkan agar pada tiap gugus tugas ada orang yang diberi tugas untuk menunggah informasi secara rutin sesuai kegiatan gugus tugas yang dilaksankan.
Rapat akhirnya di skorsing oleh karena waktu yang menjelang shalat dhuhur, rapat di jadwalkan untuk dilanjutkan jam 2 siang. Namun sebelum jam 2 siang ada informasi yang mengatakan bahwa rapat di skorsing hingga esok paginya. Rapat berikutnya selain akan memberi kesempatan kepada kasi informasi untuk memberikan tanggapan dan konfirmasi atas sejumlah pertanyaan yang diajukan peserta rapat juga diagendakan untuk membahas tentang pendirian koperasi pegawai negeri yang diinisiasi oleh pak Muhajirin dan pak H. Irwan. Rapat tentang koperasi tersebut sekaligus diagendakan sebagai rapat anggota pembentukan koperasi.
Menjadi catatan yang perlu digaris bawahi menyangkut pernyataan oleh peserta mengenai pelaksanaan kegiatan olehmasing-masing gugus tugas dimana peran pamong belajar sebagai pengkaji dan pengembang program PNF juga di laksanakan oleh gugus tugas struktural sehingga menimbulkan kerancuan, yang semetinya untuk kegiatan pengkajian melibatkan tenaga fungsional yang memang tupoksinya disitu. Untuk hal ini ditanggapi dimana sesuai pesan dari mantan kepala Balai sebelum meninggalkan makassar yaitu ada 3 hal yang perlu tetap dipertahankan yaitu tupoksi, kompetensi dan pemerataan. dalam pandangan kami, ketiga hal tersebut perlu di pertahankan yaitu bahwa hendaknya setiap gugus tugas menjalankan kegiatan sesuai tupoksinya, sehingga akan meningkat kompetensi setiap personil untuk bidang tugas yang dilakoninya, namun demikian juga perlu diperhatikan aspek pemerataan, karena tidak ada orang yang bisa bekerja sendiri. Disinilah perlunya leadership dalam mengendalikan orang-orang untuk bekerja. Bekerja yang ikhlas karena adanya kepercayaan serta penghargaan yang sepantasnya sesuai prestasi kerja.
Suasana ideal bekerja memang tidak bisa terjadi seketika, diperlukan berbagai macam instrumen untuk membangun budaya kerja yang sesuai. Ide tantang pemerataan memang bagus, tetapi jika juga tidak rata lalu apa namanya, tetapi bagaimanapun sulitnya apapun bisa diterima selama ada leadership yang bisa diterima.

Popular Posts